just a thought though…
Kemarin salah satu temen bu waks cerita kalau high school sweetheart-nya yang terkenal ganteng, atlet, dll (you know the tipe) sudah menikah dengan salah satu cewek di geng populer sekolahnya dulu. *somehow kalo denger cerita SMU dia, bu waks kebayang cerita the OC*. mereka menikah dalam usia yang relatif muda.
Reaksi bu waks waktu itu adalah “ih, kalau kyk gitu serasa living in the past nggak sih?” Apalagi kasusnya yang kayak begitu, the beautiful guy in high school married the beautiful girl in high school. kan kayak kamu menikah dengan kenangan masa jaya kamu di SMU.

Setiap ngeliat pasangan pasti teringat masa jaya itu. She/he will always be that popular kid in high school, apalagi teman2 yang dikenal adalah teman2 yang sama, cerita2 yang dibagi juga kebanyakan kenangan2 seperti itu. Iya, nggak sih?
Bu waks dan teman waktu itu sudah bertekad tidak mau mendapat pasangan yang seperti itu *dengan asumsi masa jaya kami juga waktu SMU, hehehe*. kami berdua merasa hal itu cukup menyedihkan.
Tapi kalau dipikir-pikir mungkin bu waks juga living in the past. Past kan nggak cuma SMU aja, kuliah S1 juga bagian dari “the past”. Kebanyakan teman-teman terdekat bu waks sekarang adalah teman2 waktu kuliah S1, termasuk bu kets. Dan setiap kami berinteraksi, curhat atau main, pasti kebawa kebiasaan-kebiasaan masa lalu yang masih agak pecicilan. Kembali seperti waktu usia masih 19 dan hidup nggak terlalu rumit. Yah pasti ada pendewasaan tapi klo ngeliat teman lama pasti terasa nuansa masa lalu yang begitu indah *ahai*
Ya, gimana mau pensiun kalau pola pikir masi stuck di masa lalu begini yak? temenannya masih sama yang itu-itu juga sih, serasa remaja mulu. Perasaan belum harus menghadapi quarter life crisis, masi bisa main2. kadang shock sendiri klo inget umur *iya klo lg inget*
So, am I living in the past? maybe. bu waks harusnya berkaca sebelum bilang hidup orang lain seperti itu. kayaknya bu waks harus melebarkan sayap pertemanan biar berkembang sedikit. sapa tau pensiunnya bisa cepet. amiiin! hehe…
xoxo
bu waks