Chapter 1
Bu Ketua : Gw mau kuliah lagi nih
Teman SMS : Wah yang bener, dimana?
Bu Ketua : Di Jakarta aja kali ya??
Teman SMS : Wah, pasti loe mau ngecengin mas-mas yang lagi S-2 ya??? Ngaku aja…!!
Chapter 2
Bu Ketua : Saya mau lho dipindahkan ke kantor Aceh
Teman Kantor 1 : Kenapa? Nggak betah di kantor sini?
Bu Ketua : Nggak, Cuma mau cari pengalaman baru aja
Teman Kantor 2 : Alaahhhh….pasti mau cari jodoh di Aceh!
Chapter 3
Bu Ketua : Aku mau pulang kampung nih
Teman Kos 1 : Kok tiba-tiba mau pulang kampung?
Bu Ketua : Kangen masakan nyokap
Teman Kos 2 : Masa sih? Jangan-jangan loe dilamar orang ya?
Percakapan tiga babak di atas menunjukkan betapa rawannya seorang jomblo untuk dicurigai motif-motif dalam segala tindakannya. Dari niat mulia hendak menuntut ilmu sampai kegiatan rutin pulang kampung pun selalu ada diikuti kecurigaan bahwa motif di belakangnya adalah upaya untuk menghapus status jomblo atau setidaknya yang berhubungan atau mepet-mepet tentang pacar atau dunia perjodohan. Bahkan dalam kelanjutan Chapter 3 yang di-publish disini, ketika balik dari kampung Bu ketua kemudian mengarang cerita kalau selama liburan Bu Ketua dikenalin dan dilamar anak Bupati. Eeeehhhh, kok malah pada percaya! Padahal selama seminggu di rumah, setiap hari Bu ketua kerjaannya hanya makan nasi pecel buatan Emak dan tidur di kamar (….true “ikan kering” activities)
Sebel??? Dulu iya, sekarang mah nggak ngepek kali. Tapi perlu diketahui seorang jomblo sejati, sudah ditempa telinganya selama bertahun-tahun mendengar kata-kata “Sudah punya pacar?”, “Kapan nikah?”, “Mana nih undangannya?” atau “ Masih sendiri aja Jeng?” So, kalau diukur pakai penggaris millimeter, pasti bisa dilihat kalau telinga seorang “ikan kering” lebih tebal dari telinga manusia pada umumnya (Bab ini pasti belum pernah diajarkan dalam pelajaran biologi di sekolah dulu).
Tapi menurut Bu Ketua, nggak perlu sewot-sewot amatlah. Sebenarnya, itu bukti kalau orang-orang di sekitar kita masih peduli dengan kita. Walaupun mungkin kepedulian mereka tentang status jomblo mereka lebih besar daripada kepedulian mereka tentang hal-hal lain yang menurut kita lebih urgen. Mungkin aja kan, seorang jomblo lebih senang kalau ada yang peduli dengan sekolahnya yang nggak kelar-kelar, lamaran kerjanya yang belum diterima-terima, jerawat yang sudah seminggu nongol di dahi dan nggak ilang-ilang atau kantong yang sedang kering-keringnya. Dipinjami uang di saat tanggal tua pasti lebih berguna daripada dijadikan tersangka “Pemburu Pria”
Sementara ini kalau hal itu belum terjadi, siap-siap saja dengan dialog seperti ini, “Eeehhhh, mbak mau kemana sabtu-sabtu jalan sendirian? Pasti janjian ama cowok ya?”. Aduh…gimana sih neng, kalau janjian ma cowok mah, gw nggak jalan sendirian!?!?
2 Comments
May 31, 2008 at 5:30 pm
Bnr2 nasib jomblo memilukan y?hiks..(kepala sdikit mndongak keatas dan mnrawang..).Damn..
February 10, 2009 at 5:03 pm
[...] Ketua pernah bilang bahwa apapun yang dilakukan oleh seorang ‘ikan kering’ pasti dihubungkan dengan “that” things. Tampaknya, akhir-akhir ini bukan hanya apa saja yang Bu Ketua lakukan akan dihubungan dengan [...]